FREE (Gratis) Download Presentasi Bedah Buku Proud to be Jomblo

Image

 

Alhamdulillah.. Bagi teman-teman yang mau review dikit tentang isi buku PTBJ, bisa download file presentasinya dengan klik di sini 😀

 

Follow @abangRidlo

Like FP Proud to be Jomblo juga ya.. 😀

Advertisements

Aturan Islam Dalam Kepemilikan Harta

Selain Islam menjelaskan soal harta yang sedikit dibahas dalam artikel sebelumnya, Islam-pun mengatur harta dari segi kepemilikan harta tersebut. Bisa difahami bahwa harta pada awalnya adalah milik Allah SWT, maka kita sebagai manusia yang diamanahi hak pengelolaan harta selayaknya mengetahui bagaimana Islam mengatur kepemilikan harta.

Dalam artikel ini akan dijelaskan sedikit tentang bagaimana Islam mengatur kepemilikan harta dengan membaginya ke dalam 3; kepemilikan individu (Milkiyah al-Fardhiyah/ Private Property), kepemilikan umum (Milkiyah al-‘Ammah/ Collective Property), dan kepemilikan negara (Milkiyah al-Daulah/ State Property).

Sebelumnya kita ketahui dulu hal berikut:

  • Pada hakikatnya, semua harta kekayaan dalam segala aspek adalah milik Allah SWT.

وَآتُوهُمْ مِنْ مَالِ اللَّهِ الَّذِي آتَاكُمْ

“Berikanlah kepada mereka harta milik Allah yang telah Dia berikan kepada kalian” (TQS. An-Nur [24]: 33)

لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ

“Milik Allah-lah yang ada di langit dan apa-apa yang ada di bumi.” (TQS. Al-Baqarah [2]: 284)

  • Kemudian Allah SWT memberikan hak kepemilikannya untuk dikelola oleh manusia.

وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ

“(Allah) telah menjadikan kalian memiliki banyak harta & anak-anak” (TQS. Nuh [71]: 12)

Manusia tidak boleh sembarangan mengelola harta kekayaan, tentunya ada aturan yang membatasi pengelolaan tersebut. Terkait bahasan mengenai hak milik atau bias juga disebut dengan kepemilikan (al-Milkiyah), maka harus kita ketahui bahwa pengelolaan harta kekayaan yang ada di dunia adalah harus sesuai dengan kepemilikannya.

Dalam Islam, telah ditetapkan melalui ijtihad dan istimbath para Ulama mujtahid bahwa kepemilikan dibagi menjadi 3, yakni:

  • 1. Kepemilikan Individu (Milkiyah al-Fardhiyah/ Private Property)

Hal ini (kepemilikan individu) di-istimbath dari hadits:

مَنْ أَحَاطَ حَائِطًا عَلَى أَرْضٍ فَهِيَ لَهُ

“Siapa saja memasang batas pada suatu tanah maka tanah itu menjadi miliknya” (HR. Ahmad, Thabrani, dan Abu Dawud). (Lihat Athif Abu Zaid Sulaiman Ali, Ihya’ al-Aradhi al-Mawat fi al-Islam, hlm. 72).

Sudah menjadi fitrah manusia terdorong untuk memiliki sesuatu apapun yang dia kehendaki. Namun dalam kepemilikan individu, Islam membatasinya untuk hanya memiliki apa yang bukan merupakan kepemilikan umum dan kepemilikan Negara yang bias merugikan orang banyak.

Dalam kepemilikan individu, cara mendapatkannya adalah dengan cara berikut:

ü  Menghidupkan tanah mati

ü  Berburu

ü  Makelar/ Broker

ü  Mudharabah

ü  Musaqat

ü  Ijarah

ü  Menggali kandungan dalam perut bumi/ udara

  • 2. Kepemilikan Umum (Milkiyah al-‘Ammah/ Collective Property)

Merupakan harta kekayaan yang berhak dimiliki oleh seluruh warga Negara tanpa adanya deskriminasi, oleh karena itu yang berhak mengelolanya adalah Negara.

 Hal ini di-istimbath dari hadits:

المسلمون شركاء في ثلاث: في الماء والكلإ والنار

“Kaum muslimin bersekutu (memiliki hak yang sama) dalam 3 hal: air, padang gembalaan, dan api (energi)” (HR. Ahmad)

Maka haram hukumnya bila sumber daya alam seperti: air, apa-apa yang terdapat di tanah, juga bahan-bahan energy (seperti geothermal dan minyak) dikelola oleh swasta apalagi pihak dari negara asing.

  • 3. Kepemilikan Negara (Milkiyah al-Daulah/ State Property)

Dalam kepemilikan Negara,  kita bisa lihat dalam kitab-kitab tarikh (sejarah) bahwa pengelolaannya adalah sangat erat kaitannya dengan adanya Bait al-Mal.

Contohnya adalah ketika seorang muslim meninggal dunia sementara dia tidak memiliki ahli waris, maka hartanya diserahkan kepada Negara dan dikelola di dalam Bait al-Mal. Begitu juga bila seorang yang murtad (keluar dari agama Islam) meninggal, hartanya tidak dapat diwariskan melainkan diambil alih oleh Negara.

Contoh lain lagi adalah pemungutan jizyah dari orang-orang kafir penduduk Negara Islam. Sebagaimana Allah SWT informasikan agar orang-orang kafir harus diperangi sampai dia mau membayar jizyah, Allah Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْمُشْرِكُونَ نَجَسٌ فَلَا يَقْرَبُوا الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ بَعْدَ عَامِهِمْ هَذَا وَإِنْ خِفْتُمْ عَيْلَةً فَسَوْفَ يُغْنِيكُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ إِنْ شَاءَ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ حَكِيمٌ. قَاتِلُوا الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَا بِالْيَوْمِ الْآخِرِ وَلَا يُحَرِّمُونَ مَا حَرَّمَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَلَا يَدِينُونَ دِينَ الْحَقِّ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ حَتَّى يُعْطُوا الْجِزْيَةَ عَنْ يَدٍ وَهُمْ صَاغِرُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis, Maka janganlah mereka mendekati Masjidilharam sesudah tahun ini. Dan jika kamu khawatir menjadi miskin maka Allah nanti akan memberimu kekayaan kepadamu dari karuniaNya, jika dia menghendaki. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana. Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari Kemudian, dan mereka tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah dan RasulNya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al-Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk.” (TQS. At-Taubah [9]: 28-29)

Maka dari semua itu, adanya negara Islam merupakan hal yang diwajibkan oleh Islam untuk menjaga keberlangsungan penerapan aturan-aturan Islam.

Referensi:

Pandangan Islam Terhadap Harta

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Mungkin dalam benak kita muncul pertanyaan tentang harta yang kita miliki, apakah hanya titipan ataukah memang diberikan? Serta bagaimana kita menyikapi harta tersebut? 

Dalam tulisan di blog ini, dengan segala kelemahan akan pengetahuan, saya memaparkan sedikit yang saya rangkum dari buku-buku ekonomi Islam mengenai bagaimana Islam itu memandang harta. 

 

  • Manusia memang diberikan Harta oleh Allah:

وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ

“(Allah) telah menjadikan kalian memiliki banyak harta & anak-anak” (TQS. Nuh [71]: 12)

  • Fitrah manusia mencintai hartaL:

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan pada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta,  yang banyak dari jenis emas, perak…” (TQS. Ali ‘Imran [3]: 14)

  • Sebagaimana lazim kita ketahui bahwa harta wajib diambil zakatnya, dan Negara wajib berperan dalam pemungutan zakat tersebut:

خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ

“Ambillah zakat dari harta-harta milik mereka” (TQS. At-Taubah [9]: 103)

  • Dengan harta pula diperbolehkan untuk berjual-beli dengan berbagai syarat yang telah diatur dalam syariah dan diharamkan untuk perkara ribawi:

وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَاض

“Allah telah menghalalkan jual-beli dan mengharamkan riba” (TQS. Al-Baqarah [2]: 295)

  • Diharamkan juga harta jika digunakan untuk berbuat israf:

وَلَا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

“Dan janganlah kalian berbut israf. Karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat israf” (TQS. Al-An’am [6]: 141)

Penjelasan:

  • Sesuai pada QS. [71]: 12 bahwa Allah telah menjadikan manusia memiliki harta, dan sesungguhnya rasa suka akan harta pada manusia merupakan sebuah fitrah yang telah Allah karuniakan (TQS. [3]: 14) dengan syarat bahwa rasa suka akan harta adalah sewajarnya.
  • Harta yang kita miliki bukanlah 100% hak kita, melainkan ada bagian yang harus dikeluarkan berupa zakat yang telah ditentukan. Peran serta Negara dalam penarikan zakat adalah sangat penting. Karena Negara adalah pemilik kekuatan suatu wilayah dan wajib memaksa rakyat yang muslim untuk mengeluarkan zakatnya dan juga mendistribusikan zakat sesuai data sensus penduduk miskin Negara tersebut. Adapun bila ada rakyat yang tidak mau membayar zakat padahal dia mampu, maka Negara pantas untuk menghukumnya.
  • Harta boleh diperjualbelikan dengan berbagai transaksi dengan rukun dan syarat yang telah disimpulkan oleh para Ulama. Contohnya seperti jual-beli barang yang halal untuk diperjualkan dengan cara tunai ataupun kredit tanpa bunga. Sebaliknya, diharamkan berjual beli secara tunai ataupun kredit untuk perkara israf (kemaksiatan) ataupun jual-beli kredit berbunga.

Asy-Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani mengatakan,

“Tujuan mencari kekayaan yang diperintahkan oleh Islam bukan untuk menjadi alat pemuas semata dan untuk suatu kebanggaan, melainkan untuk menjalankan roda perekonomian secara menyeluruh sesuai dengan perintah dan larangan Allah. Islam juga memerintahkan kepada setiap Muslim agar mencari kehidupan akhirat dengan tidak melupakan kehidupan dunia.”

Beliau pun mengutip ayat:

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ

“Carialah apa saja yang telah Allah berikan kepadamu dari kehidupan janganlah engkau melupakan kehidupanmu di dunia. Berbuat baiklah engkau sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu. Janganlah engkau mencari kerusakan di muka bumi ini. (TQS. Al-Qashash [28]: 77)

Referensi:

  • Taqiyuddin An-Nabhani. 2012. Sistem Ekonomi Islam. Jakarta: HTI Press.
  • Abdurrahman Al-Maliki. 2009. Politik Ekonomi Islam. Bogor: Al-Azhar Press.

Image

 

Memang kita dalam sebuah perbedaan
Tapi kita tetap dalam satu kebersamaan
Shalat jama’ah kita dalam satu barisan
Kerja sama saat sekitar adakan kurban

Jika memang harus beda pergerakan
Tapi tetap harus jaga persaudaraan
Tiap bertemu kita tetap bersalaman 
Melempar senyuman saat berpapasan

Walau kadang masuk dalam perdebatan
Tapi untunglah tidak saling beri kutukan
Usai diskusi kita tetap saling memafkan
Mengakui bahwa diri penuh kelemahan

Beda pergerakan memang keniscayaan
Tak seharusnya jadi bahan perpecahan
Yang membuat kita saling bermusuhan
Seakan kita sudah beda akan keimanan

(@abangRidlo)

Apalah Demokrasi

Apalah yang diharap dari Demokrasi

Yang menjunjung tinggi nilai liberalisasi
Yang katanya menjunjung hak azasi
Yang tindaknya banyak deskriminasi

Apalah hebatnya si sampah Demokrasi 
Tahun lalu harga BBM dinaikan lagi
Tahun ini pemerintah naikan harga elpiji
Yang semua itu malah buat kita emosi

Apalah guna sistem kufur Demokrasi 
Mengatur hukum dengan nafsu pribadi
Syariat Islam yang begitu mulia dikhianati
Terus menyesatkan muslim di negeri ini

 

Apalah yang bisa disanjung dari Demokrasi 
Selain seluruh kekayaan alam bisa diprivatisasi
Hanya pejabat dan orang kaya yang bisa nikmati
Buat yang kaya makin kaya dan yang miskin mati

 

Apalah bolehnya terapkan sistem Demokrasi 
Tidak ada ayat atau hadits yang perintahkan ini
Tidak ada ijma shahabat ataupun qiyas syar’i
Tidak ada kaidah fikih yang bisa melegitimasi

 

(Ridlo Muhammad)

Gratis (FREE) Download Murratal Juz Amma Ustadz Yusuf Mansur

Silahkan, buat teman-teman yang mau dengerin kemerduan bacaan al-Qur’an Ust. Yusuf Mansur atau teman-teman yang lagi hafalin surat-surat buat bacaan shalat. Alhamdulillah, di sini sudah tersedia link download Mp3 rekaman Ust. Yusuf Mansur, GRATIS 😀

Klik foto beliau aja, langsung masuk.. 😀

Image

 

 

Selamat Download ^_^

(@abangRidlo)

Orang Sombong Masuk Neraka Jahannam dan Kekal di Dalamnya

Alkisah tentang dua orang anak bernama Doni dan Dodi. Mereka sudah lama berpisah, namun akhirnya bertemu kembali dan saling menyapa.

Oi, bro.. Sombong amat sih, akhir-akhir ini jarang ngehubungi!” Doni menyapa lebih dulu.

Dodi malah merasa dijelek-jelekan, seraya membalas, “Lo yang sombong! Kemana aja lo sampe gak nampak ujung idung lo!

Sombong amat lo ngata-ngatain gue! Ngajak berantem?

Ayo! Jangan mentang-mentang badan lo gede, gue bisa takut! Jangan ngarep lo! Dasar sombong!

Akhirnya mereka bertengkar sampai keduanya tak sadarkan diri.

Bagaimana kisah mereka selanjutnya?

Tidak akan dilanjutkan.. 😀

——

Sekedar cerita ilustrasi buat opening tulisan (hehehe). Sebenernya kali ini penulis pengen bahas tentang sombong. Soalnya pernah nih satu hari ada yang bilang kurang lebih, “Ente sombongnya minta ampun, mentang-mentang udah ngaji jadinya ngerti agama, sekarang sok-sok’an nasehatin orang”.

Serem gak tuh kalo kita dikatain sombong? Serem dong! Soalnya dalam satu ayat, Allah Ta’ala berfirman:

قِيلَ ادْخُلُوا أَبْوَابَ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا ۖ فَبِئْسَ مَثْوَى الْمُتَكَبِّرِينَ

Dikatakan (kepada mereka): “Masukilah pintu-pintu neraka Jahannam itu, sedang kamu kekal di dalamnya” Maka neraka Jahannam, itulah seburuk-buruk tempat bagi orang-orang yang menyombongkan diri.

(TQS. Az-Zumar [39] : 72)

Allah katakana dalam surat az-Zumar ayat 72 bahwa orang yang sombong itu tempatnya di neraka Jahannam selama-lamanya. Serem, kan?

Tapi masalahnya, apakah orang-orang macem cerita ilustrasi tadi yang saling ngatain sombong itu pada masuk neraka Jahannam dan kekal di dalamnya? Musti hati-hati nih! Berarti jangan sampai kita disebut sombong sama orang laen. Jadi kita gak boleh pake baju bagus, gak boleh juga nasehatin orang laen yang pada doyan maksiat macem pacaran, ngerinya kita nanti disebut sombong. Orang sombong tempatnya di neraka Jahannam selama-lamanya! Serem, bro!

Kalo kayak begitu, jadinya gimana tuh? Kan bikin bingung (hehehe).

Sebenernya gak usah bingung sih. Kita cari aja tafsir ayat itu. Di ayat itu kan yang kekal di neraka Jahannam adalah al-Mutakabbir (orang yang menyombongkan diri). Berarti kita harus cari tahu tentang arti dari al-Mutakabbir yang sebenernya. Ya balik lagi, lihat tafsir lah. 😀

Penulis dapet dalam aplikasi computer yang namanya “Quran Karim”, yaitu aplikasi al-Qur’an digital yang udah sedia sama tafsirnya. Jadi di aplikasi itu disediakan beberapa tafsir seperti; Ibnu Katsir, al-Qurtubi, Jalalayn, dsb. Tapi Penulis mau ambil tafsirnya Imam al-Qurtubi, soalnya di tafsir beliau nyantumin hadits. Haditsnya panjang, tapi langusng aja artinya:

Dari Ibn Mas’ud, dari Rasulullah Saw, beliau bersabda: “Tidak akan masuk surga, seseorang yang di dalam hatinya ada setitik dzarrah sifat sombong” Seorang sahabat bertanya kepada Nabi Saw: “Sesungguhnya seseorang menyukai kalau pakaiannya itu indah atau sandalnya juga baik” Rasulullah Saw bersabda: “Sesungguhnya Allah SWT. adalah Maha Indah dan menyukai keindahan. Sifat sombong adalah mengabaikan kebenaran dan memandang rendah manusia yang lain

(HR Muslim)

Jadi, yang dimaksud sombong itu adalah سفه الحق وغمص الناس (mengabaikan al-Haq dan memandang rendah manusia yang lain). Atau kalo bahasa penulisnya (cie, bahasa penulis), sombong adalah menolak kebenaran dan nganggap orang lain rendah.

Pertama, maksud dari menolak kebenaran itu nolak sesuatu yang memang benar. Contohnya nolak ayat al-Qur’an yang disampaikan. Contohnya nih, ada ayat tentang wajibnya puasa (ash-shiyam) di bulan Ramadhan:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”

(TQS. Al-Baqarah [2]: 183)

Setelah dibacain ayat itu, ada 2 pilihan:

  1. Mengerjakannya pas di bulan Ramadhan.
  2. Gak dikerjakan pas di bulan Ramadhan.

Nah, yang nomor 2 nih, yang gak ngerjain harus punya alasan tentang kenapa gak dikerjainnya. Misalnya dia jawab, “Ah, ngapaen puasa! Masih muda kok puasa? Nanti aja kalo udah tua”. Nah, macem gini gak termasuk nolak kebenaran ayat itu,  dia yakin tapi memang dia gak mau ngerjainnya aja. 😀

Beda lagi kalo jawabannya begini, “Ah, gue gak mau puasa! Emang puasa Ramadhan wajib, apa? Siapa yang bilang wajib? Gue gak percaya!”. Nah, yang macem gini contoh nolak yang namanya kebenaran. Dia termasuk al-Mutakabbir, dan masuk neraka Jahannam selama-lamanya.

Itu contoh nolak ayat tentang puasa. Ada contoh lagi nih, misalnya ayat ‘uqubah. Contohnya tentang potong tangan buat maling:

وَالسَّارِقُ وَالسَّارِقَةُ فَاقْطَعُوا أَيْدِيَهُمَا

“Pencuri laki-laki dan pencuri perempuan, maka potonglan tangan keduanya!”

(TQS. Al-Maidah [5] : 38)

Dari ayat itu, berarti hukuman buat maling yang mencapai nishab (1/4 dinar atau 3 dirham) adalah potong tangan. Tapi kenapa di negeri kita gak diterapkan?

Misalkan jawabannya, “Duh, tugas pemerintah nih! Saya mana berani!”. Ini berarti belum mampu buat ngerjainnya, karena bukan pemerintah. Tapi kalo jawabannya, “Itu kan hokum jadul zaman manusia naek onta! Kalo mau yang kayak begitu, ke Arab aja sono! PANCASILA HARGA MATI!”, wah wah wah, ini namanya menolak kebenaran, termasuk yang namanya al-Mutakabbir (yang menyombongkan diri).

Lalu tentang nganggap orang laen rendah. Itu misalnya Begini. Penulis ngaku bukan lulusan pesantren, lalu pengen sharing dan diskusi tentang dunia Islam sama kalangan lulusan pesantren, tahunya ditolak dan bilang, “Mesantran 6 tahun dulu gih! Abis itu baru sharing sama kita-kita”. Itu namanya nganggap rendah orang laen.

Contoh lain lagi. Misalnya ada orang dari organisasi A, dia diminta ngisi pengajian di suatu kampong yang masjidnya dikelola sama organisasi B. Tadinya gak tahu kalo orang itu dari organisasi A. Pas kenalan, ternyata bukan dari organisasi B, langsung deh ditolak buat ngisi alias di-reshuffle 😀

“Lo masih muda, masih kuliah S1 dan belum lulus! Gue udah lebih tua dari lo, udah lulus S2 pula! Sok nasehatin lo!”

*Penulisnya sakit hati digituin.. #abaikan 😀

Apakah beda akan usia menjadi sebuah faktor
Anda yang tua bisa lontarkan kata-kata kotor
Layaknya raja yang otoriter dan jadi diktator
Padahal hanya plagiator yang ingin tersohor

Apakah adanya gelar menjadi sebuah ukuran
Sehingga saya yang rendah status pendidikan
Layak untuk diolok-olok dan tidak didengarkan
Tatkala saya menyampaikan sebuah gagasan

Apakah juga masalah perbedaan akan strata
Antara saya yang miskin dan anda yang kaya
Hingga pendapat saya layak tuk selalu dicela
Sedangkan pendapat anda selalu dipuja-puja

(Ridlo Muhammad)

Nah, jadi begitu. Dengan segala keterbatasan penulis yang menjelaskan sedikit tentang orang yang sombong yang kata al-Qur’an surat az-Zumar ayat 72 bakalan masuk neraka Jahannam selam-lamanya.

Intinya, jauhkan diri kita dari menolak kebenaran dan nganggap rendah orang laen.

Allahu a’lamu bi ash-shawab

(@abangRidlo)

Tentang Dua Jenis Lelaki

Kita bahas hal yang harus diketahui
Sesuatu yang kita temui setiap hari
Agar kita biisa melihat diri sendiri
Tentang makhluk yang disebut lelaki

Kata-kata ini adalah yang saya teliti
Ternyata sifat dan sikap di dunia ini
Yang membedakan dua jenis lelaki
Yang baiknya kita semua sadari

Saya tuliskan ada dua jenis lelaki
Yang dibedakan dari yang dilakoni
Sebagai yang dijadikan sebuah ciri
Ciri-ciri yang membedakan lelaki

Sebagaimana yang saya dapati
Ternyata ada dua jenis lelaki
Yang pertama yakni Lelaki Sejati
Yang kedua adalah Lelaki Banci

Berikut ini beda ciri dua lelaki
Lelaki yang dikata Sejati dan Banci
Dilihat saat mereka curahkan isi hati
Kepada orang yang dianggap mumpuni

Lelaki Banci curhat untuk diketahui
Bahwa mereka ingin dikasihani
Lelaki Sejati curhat untuk konsultasi
Bahwa mereka mencari sebuah solusi

Lalu pada aktifitasnya sehari-hari
Lelaki Banci lebih memilih nyanyi-nyanyi
Banci pula yang doyan nari-nari
Tapi lelaki Sejati pasti memilih ngaji

Saat lawan jenis harus disikapi
Lelaki Banci memilih untuk mendekati
Lakukan hal yang tak pantas dilakoni
Bila masih menganggap dirinya lelaki

Berbeda dengan lelaki sejati
Mereka lebih memilih menghindari
Karena takut pada Dzat yang ditakuti
Dan memilih taqarrub pada Sang Ilahi 

Saat belum sanggup menikahi
Lelaki Banci malah memacari
Bergombal dan mengobral janji
Janjikan hah-hal yang takkan pasti

Berbeda dengan Lelaki Sejati
Akan mencintai dalam diam dan sepi
Berusaha untuk memantaskan diri
Persiapkan waktu yang memang pasti

Terakhir, jangan sebut kita lelaki Sejati
Kalo kita masih tak mau serius mengkaji
Tentang hal yang wajib kita lakoni
Akan tujuan hidup kita di dunia ini 

Inilah sedikit tentang beda dua lelaki
Sebagaimana yang baru saya ketahui
Silahkan bila ada yang mau menambahi
Akan membuat tulisan ini makin terhiasi

 

(@abangRidlo)

Cuma Bisa Nulis

Pengen bisa ngedit gambar biar modis
Tapi gak sanggup ikut kuliah design grafis
Jadinya cuma nyari pinjeman buku gratis
Sebisa mungkin biaya yang minimalis 

Tapi kalo gak bisa-bisa, ya jangan nangis
Gak usah juga hati ini ngerasa teriris-iris
Mungkin bakatnya baru bisa nulis-nulis
Belum bisa yang namanya lukis-lukis 

Sekedar kata-kata keluhan yang miris
Yang dibuat oleh seorang aktivis
Bergelut dalam pergerakan ideologis
Tapi tetaplah bicaranya agak puitis 

(@abangRidlo)

Nilai Dasar Perjuangan (NDP*) Part 1

Nilai Dasar Perjuangan

Lumrah kita lihat di lingkungan masyarakat ada yang seperti kegiatan-kegiatan yang saling bertolak belakang. Contohnya nih, ada remaja yang doyan pacaran; ada juga remaja yang nampak asik ngejaga diri. Contoh lain lagi, ada orang-orang yang berusaha buat nutupin auratnya; namun ada juga yang santai aja –bahkan– bangga  mamerin auratnya. Ada juga sekelompok orang yang memperjuangkan syariat Islam, tapi ada juga kelompok-kelompok yang gak peduli sama syariat Islam. Kita khususkan ini buat orang-orang yang ngakunya muslim. Kayaknya kalo lihat kaum muslimin sekarang, bisa dibilang parah. Masa sih ngakunya muslim tapi gak mau diatur sama aturan Islam?

Berjuang dalam perjuangan. Banyak macam perjuangan yang diklaim sudah benar dan yang berbeda hanya bilang, “Yaudah, kita jalan di jalur yang berbeda.” OK. Awalnya sih terserah, tapi ini masalah. Eh, dia nyaut, “Masalah buat lo!” (Hehe) ya masalah lah. Masalahnya kita sama-sama muslim. Setiap muslim itu wajib saling menasihati dan melindungi. Jadi gak usah bilang, “Apaan sih? Tangan, tangan gue! Yang pacaran gue! Yang masuk neraka, jug ague!” (Hehehe) mudah-mudahan gak ada yang bilang macem begitu.

OK. Balik lagi ke “Per-ju-ang-an”. Yang namanya perjuangan pasti ada landasan (nilai dasar) dan juga namanya tujuan (cita-cita). Nah, dari keanekaragaman perjuangan, kenapa sih Saya mau banget memperjuangkan Islam? Dan kenapa sih Saya mau ngajak yang lain sama-sama memperjuangkan Islam? Ya, Tanya siapa lagi kalo bukan diri Saya sendiri.

Perjuangan. Ya, kalo lihat judulnya kayak jadi plagiator yang niru gaya NDP-nya salah satu oraganisai Mahasiswa. Ya, itu terserah sih, tapi NDP-RM (Nilai Dasar Perjuangan Ridlo Muhammad) itu beda lagi. Ada yang sama sih, ketika main retorika dan perbandingan. Tapi di sini bakalan ada tujuan setelah kita tahu kenapa kita mau berjuang. Ya, NDP (Nilai Dasar Perjuangan).

OK. Masuk bagian pertama NDP-RM.

Memperkuat landasan perjuangan dan mendapatkan tujuan perjuangan adalah hal pertama yang harus dicari oleh orang-orang yang mau berjuang. Jadi perjuangannya itu bertujuan jelas dan sesuai sama apa yang seharusnya dilakukan. Gak ada cara lain buat tahu tentang tujuan hidup kita selain dari “Yang Menciptakan” kita. Masalahnya, siapakah Dia?

Mengetahui tentang “Siapakah Dia” itu caranya mencari tahu tentang asal mula kehidupan kita. Nah, para “Ilmuwan” jauh sebelum kita lahir, pada nebak-nebak tentang asal mula kehidupan kita. Contoh teori-teorinya, antara lain:

–          Generatio Spontanea (Abiogenesis), yakni bahwa manusia muncul secara tiba-tiba. Yang ngomong ini adalah si Aristoteles. –> Lah, gimana caranya tuh? :/

–          Cosmozia, yakni bahwa makhluk hidup di bumi adalah dari luar bumi (planet lain). –> Terus, makhluk di planet lain itu asalnya dari mana?

–          Omne Vivum Ex Ovo, kata si Fransisco Redi “Asal mula kehidupan adalah telur.” –> Telur asalnya dari mana? :v

–          Omne Ovo Ex Vivo, ini kebalikan dari teori si Fransisco Redi. Yang ngomongnya si Lazzaro Spallanzani. –> Sama anehnya 😀

Sebenernya masih banyak lagi teori lainnya yang gak jelas dan bakalan bikin pertanyaan yang gak ada ujungnya. Berarti kita harus dapat informasi yang jelas dan bikin kita puas. Caranya gimana? Berfikir. 😉

Kalo misalnya kita megang hp, kita pasti pernah mikir tentang siapa yang bikin hp ini. Gak mungkin ada hp kalo gak ada yang nyiptain, dan yang nyiptain hp pastinya bukan hp. 😀

Manusia itu ada, pastinya ada yang buat. Pastinya lagi yang membuat manusia itu bukan manusia. Sangat pasti lagi yang membuat manusia itu berbeda sama manusia. Siapa Dia? Jelasnya bukan manusia. 😀

Jelaslah yang menciptakan manusia itu Tuhan. Tapi masalahnya, Tuhan yang mana? Pertanyaan baru lagi. 😀

Gini aja deh, kita mikir sedikit.

–          Apakah Tuhan itu diciptakan?

–          Apakah Tuhan itu dilahirkan?

–          Apakah Tuhan itu bisa mati?

–          Apakah Tuhan itu tidak diciptakan, tidak beranak dan tidak diperanak, juga tidak akan pernah mati?

Jawab sendiri.. 😀

Jadi sekarang gini. Kita (manusia) anggap kita ini diciptakan (makhluq). Kalo ada yang diciptakan, pasti ada Pencipta (Khaliq). Siapakah Al-Khaliq? 😀

Kita (manusia) pasti gak ada yang abadi (azali), itulah ciri-ciri sebuah ciptaan. Pastinya Yang Maha Pencipta itu bersifat abadi (azali). Siapakah Tuhan yang Azali?

Al-Khaliq wa azali. Tiada lain dan tiada bukan adalah Allah Al-Khaliq. Gak ada lagi selain-Nya 🙂

OK. Ini cuma pembukaan gambaran umum NDP-RM dan masih bisa dikata “bersambung” 😀

 Nanti lanjut lagi, sekarang lagi sakit mata.. 😀

Wassalaam

(@abangRidlo)